Wednesday, 15 July 2015

Kekuatan Dahsyat Dari Allah

Sumber gambar: http://tipsyoman.blogspot.com/
Mimpi, sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan namun sangat susah untuk diwujudkan. Bahkan, bagi sebagian orang mimpi adalah sebuah api yang berkobar dan menyala, namun kobarannya hanya sesaat dan tidak bertahan lama. Itulah alasan mengapa banyak orang yang begitu bersemangat untuk mewujudkan mimpi dan harapannya dan kemudian ia tidak melanjutkan mimpinya atau pindah kepada hal lain karena dia rasa mimpinya hanyalah harapan yang tidak mungkin , tidak rasional, atau bukan takdir bagi dia.
             Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki pandangan demikian. Ada pula orang yang tetap kukuh bertahan dengan cita citanya meskipun itu susah. Pringga adalah salah satu dari kesekian orang tersebut. Terlahir dari keluarga yang biasa biasa, Pringga bercita cita ingin melanjutkan ke fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Kota Malang. Bagi kebanyakan orang termasuk penulis sendiri waktu itu, mimpi Pringga terbilang cukup bernyali sekali, pasalnya Pringga adalah siswa yang kurang bias dalam pelajaran eksak, terutama matematika dan fisika.  Padahal untuk dapat menembus tes masuk perguruan tinggi negeri saingannya cukup ketat, terutama fakultas-fakultas yang diminati seperti fakultas kedokteran. Sehingga, kemampuan akademik sangat menunjang untuk keberhasilan dalam tes. Tidak hanya itu, fakultas kedokteran tergolong fakultas dengan biaya yang terbilang mahal.
             Bagi Pringga, prediksi prediksi tersebut tidak menjadikannya patah semangat. Sebaliknya, dengan kekurangan yang dia miliki dan hambatan-hambatan yang ada membuat dia semakin semangat dalam  mewujudkan mimpinya. Dia tidak malu mengungkapkan cita citanya tersebut kepada teman-temannya agar dia lebih semangat lagi.
             Hampir setiap malam, Pringga datang ke rumahku untuk belajar matematika. Selama belajar matematika, Pringga adalah murid yang paling susah paham ketika diajari matematika dibandingkan murid murid lesku yang lainnya. Hal ini terbukti ketika membahas sebuah soal, aku perlu mengulang membahasnya selama beberapa kali hingga paham juga. Parahnya lagi, dia sering lupa penjelasanku pada pertemuan sebelumnya, jadi aku sering mengulanginya ketika awal awal belajar. Sejujurnya, capek juga mempunyai murid yang susah paham seperti Pringga ini, namun rasa capek itu seketika hilang melihat rona matanya yang serius dalam belajar. Salah satu bukti dari keseriusannya dalam belajar, dia selalu membawa beberapa lembar kertas HVS kosong ketika belajar sebagai tempat hitung hitungan dan alat tulis berupa pensil , pulpen, dan spidol. Maksudnya, ketika HVS yang berfungsi sebagai kertas hitung-hitungan tersebut sudah penuh dengan coret coretan pensil, dia kemudian menindasnya dengan pulpen sebagai tempat coret-coretan, dan jika coret-coretan pulpen tersebut sudah penuh, dia akan menindasnya lagi dengan menggunakan spidol. Tidak terbayangkan berapa kali dia mengerjakan soal dan berapa kalipula dia mengulang ulang soal tersebut ketika belajar.
             Ketika UN semakin dekat, Pringga semakin sering ke rumahku. Terkadang dia tidur di kamar atas rumahku karena kemalaman belajar. Yang membuat aku merasa takjub, dia selalu bangun lebih dahulu daripada aku, bahkan nenekku yang selama ini rutin sholat tahajud kalah cepat dalam hal bangun ketimbang dia. Pernah aku terbangun sebelum subuh, kira kira pukul tiga pagi, kudapati dia tengah asyik sujud bersimpuh.  Hal ini selalu kudapati ketika dia menginap ke rumahku. Sungguh seorang pemuda yang hebat, belajar hingga larut malam, tetapi sepertiganya selalu dia gunakan untuk bersujud bersimpuh menghadap Allah SWT.
             Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba,yakni UN matematika. Dengan mengendarai sepeda ia berangkat menuju sekolah. Sesampai disana dia agak heran ketika menjumpai bahwa disekelilingnya sepi, seorang guru menjumpainya dan menyuruhnya untuk masuk langsung, rupanya dia terlambat masuk. Dengan tenang dan penuh harap kepadaNya dia kerjakan 40 butir soal yang diujikan. Sebulan kemudian, dia mengabarkan kepadaku bahwa dia lulus dan mendapatkan nilai matematika lumayan bagus, yakni 6.75. Tidak seberapa bagus sih, namun dia sudah berhasil mengatasi “matematika” yang merupakan kelemahannya. Ketika saya Tanya mengenai perihal perguruan tinggi yang dia inginkan, dengan percaya dirinya dia mengatakan kepadaku fakultas kedokteran Brawijaya jurusan kedokteran atau keperawatanadalah pilihannya. Dalam benakku, sangat kecil sekali probabilitasnya dia bisa lolos dan diterima di perguruan tinggi yang dia inginkan, tapi sebagai kakak kelas dan guru lesnya aku tidak boleh menunjukkan raut muka seperti itu ketika bertatap muka dengan dia. 
             Suatu hari ketika aku berjalan jalan menggunakan sepeda kearah stasiun Kota Malang, aku berhenti sebentar menyempatkan waktu untuk membaca harian yang terdapat pada majalah dinding kota. Begitu terkejutnya aku ketika mendapati nama Pringga Adityawan diterima di fakultas kedokteran Universitas Brawijaya. Waktu itu, aku sangat merinding sekali membaca. Teringat pula pada salah satu kutipan ayat di dalam Al Quran “jadilah maka terjadilah”. Disaat itulah aku menjadi percaya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini jika Allah menghendakinya dan sebagus apapun prediksi dan perhitungan yangdibuat oleh manusia akan sesuatu hal, tetap tidak akan bisa mengalahkan kehendak Allah.
             Tujuh tahun berlalu sudah. Aku sudah tidak pernah bertemu kembali dengan Pringga karena kesibukan kami masing-masing. Ketika aku membuka akun facebookku, secara tidak sengaja aku mendapati sebuah status dalam akun Pringga. Status tersebut berupa foto dia dengan background daerah di luar negeri. Karena penasaran, aku berikan koment pada status tersebut dan dia menjawab “Alhamdulillah, sam, aku mendapat kepercayaan dari Allah untuk melanjutkan studi S2 di Monas Untiversity Australia”. Subhanalaah, sungguh besar kuasamu Ya Allah kepada hambamu yang bersungguh dalam bersujud kepadaMu. Mungkin ini adalah kekuatan dahsyat yang Engkau berikan kepada dia yang bersungguh-sungguh. Bukan kekayaan harta, kecerdasan yang luar biasa, atau kekuatan fisik, namun doa dan semangat berjuang yang tidak mengenal menyerah.  Teringat akan kata-kata yang pernah dia ucapkan kepadaku ketika dia masih SMA.
 “Sam, ketika aku lulus SMA nanti, aku akan kuliah di perguruan tinggi di Indonesia, kemudian  akan melanjutkan studiku di luar negeri”.  


”Hai anak anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah . Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah , melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf ayat 87)

0 comments: