Thursday, 19 June 2014

Pada postingan kali ini penulis ingin mengupas mengenai pembelajaran bangun datar segiempat, baik di sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Bangun datar segiempat merupakan salah satu materi yang dikaji dalam geometri. Berdasarkan tata urutannya, bangun datar diajarkan sesudah materi garis, sudut, dan segitiga.


Ketika kita mengajarkan materi ini, seringkali kita memulainya dari bangun persegi dan persegi panjang. Hal ini dikarenakan banyaknya buku yang memulainya dari persegi dan persegi panjang. Selain itu, persegi dan persegi panjang sangat melekat bagi siswa karena banyaknya contoh dalam kehidupan sehari hari mereka, rumus luas dan keliling yang sederhana, dan perhitungan rumus yang mudah bagi siswa.

Disisi lain, secara teori pembelajarannya konsep bangun datar segiempat yang paling awal untuk diajarkan adalah bangun datar trapesium. Trapesium adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh empat buah rusuk yang dua diantaranya saling sejajar, namun tidak sama panjang. (http://id.wikipedia.org/) Akibatnya, jumlah sudut yang berdekatan adalah 180 derajat. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, terlihat bahwa trapesium merupakan bangun datar segiempat dengan ciri-ciri yang sederhana dibandingkan bangun datar segiempat lainnya. Sebagai bahan pembanding, berikut saya sajikan ciri-ciri dari masing-masing bangun datar.

a. Belah Ketupat
   
Belah ketupat merupakan bangun datar dua dimensi yang dibentuk empat buah rusuk yang sama panjang, dan memiliki dua pasang sudut yang bukan siku-siku yang masing-masing sama besar dengan sudut dihadapannya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Belah_ketupat). Akibatnya, belah ketupat
 memiliki dua pasang sisi yang sejajar (dikarenakan semua sisinya sama panjang). Karena sifat trapesium terdapat juga pada belah ketupat, maka belah ketupat dapat pula kita sebut sebagai trapesium, tetapi kita dilarang menyebut trapesium sebagai belah ketupat dikarenakan tidak terdapat semua sifat belah ketupat pada diri trapesium.



b. Layang layang

Layang layang adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh dua pasang rusuk yang masing-masing pasangannya sama pranjang dan saling membentuk sudut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Layang-layang_(geometri)). Berdasarkan sifat tersebut, maka pada layang-layang tidak terdapat garis yang saling sejajar, sehingga layang-layang adalah sebuah bangun yang berbeda dengan trapesium dan belah ketupat.

c. Jajar Genjang

Jajar genjang adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh dua pasang rusuk yang masing-masing sama panjang dan sejajar dengan pasangannya.(http://id.wikipedia.org/wiki/Jajar_genjang) Akibat dari definisi tersebut, maka jajar genjang memiliki dua pasang sisi sejajar, dua pasang sisi yang sama panjang, dan dua pasang sudut yang sama besar. Kesemua sifat ini terdapat pada belah ketupat, sehingga dapat dikatakan bahwa belah ketupat merupakan jajar genjang namun jajar genjang bukanlah belah ketupat (karena jajar genjang semua sisinya tidak sama panjang).
Sedangkan jika dihubungkan dengan trapesium, jajar genjang dapat dikatakan sebagai trapesium karena jajar genjang memiliki sisi yang sejajar. sedangkan trapesium bukanlah jajar genjang. (trapesium tidak memiliki dua pasang sisi yang sejajar dan sama.

d. Persegi Panjang

Persegi panjang adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh dua pasang rusuk yang masing-masing sama panjang dan sejajar dengan pasangannya, dan memiliki empat buah sudut yang kesemuanya adalah siku-siku. (http://id.wikipedia.org/wiki/Persegi_panjang)
Berdasarkan definisi diatas, kita ketahui bahwa persegi panjang dapat dikatakan sebagai trapesium (karena memiliki sisi yang sejajar) dan jajar genjang (karena dua pasang sisinya sama dan sejajar). Namun trapesium tidak dapat dikatakan sebagai persegi panjang (tidak memiliki 2 sisi yang sama panjang dan sejajar) dan jajar genjang juga tidak dapat dikatakan sebagai persegi panjang (masing-masing sudut jajar genjang tidak siku-siku).

Sudah jelas bukan bahwa trapesium merupakan dasar dari semua bangun datar, karena pada bangun datar bangun datar yang lain ditemukan sifat trapesium, terkecuali layang-layang. Sehingga, jika kita ingin membentuk kerangka berpikir siswa, alangkah baiknya kita mulai dengan dengan penjelasan yang sistematis, mulai dari bangun datar trapesium, layang-layang, hingga persegi. Memang diawal akan terasa sulit, mengingat perhitungan pada trapesium lebih rumit daripada bangun datar segiempat yang
lain. Akan tetapi, kesulitan tersebut akan terbayarkan apabila siswa kita mampu menghubungkan antara konsep satu dengan konsep yang lain ketika menyelesaikan permasalahan matematika.

Semoga artikel kali dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Kritik dan saran senantiasa penulis nantikan dari pembaca sekalian. Salam!

0 comments: