Friday, 20 June 2014

Akhir-akhir ini,olimpiade sangat marak dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat banyaknya sekolah yang memprioritaskan olimpiade sebagai salah satu program prioritas mereka, seperti membuat program kelas khusus untuk olimpiade, memasukkan olimpiade kedalam kurikulum atau ekstrakulikuler. Selain itu, dalam dunia mayapun olimpiade menjadi topik yang sangat hangat untuk dibicarakan.

Begitu pentingnya olimpiade bagi sekolah, sehingga kita sebagai guru atau pembina harus pandai dalam menemukan siswa untuk dapat dibina. Berikut ini adalah tips dalam menentukan siswa untuk dibina dalam rangka mempersiapkan olimpiade berdasarkan pengalaman penulis:



Siswa Bermotivasi Tinggi
Ada pepatah mengatakan, "mereka yang menyambut tantangan, adalah mereka yang memberi ruang pada impian tukmenjadi kenyataan". Begitu pula dengan siswa yang memiliki motivasi tinggi, dia senantiasa untuk berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan cita-citanya sekalipun itu sulit. Seringkali kita berpikir bahwa, bahwa siswa yang cocok untuk dibina dalam olimpiade adalah siswa yang pandai atau siswa dengan predikat nilai rapot yang sangat baik. Hal ini tidak selalu benar, karena tidak semua siswa olimpiade berasal dari kalangan siswa berprestasi.
Sedikit pengalaman ketika membina olimpiade. Ketika saya memulai membina olimpiade, saya belum merasa tidak berpengalaman dan tidak tahu harus memilih siswa yang seperti apakah. Sehingga saya berpikir seperti kebanyakan orang, mengumpulkan siswa yang berprestasi secara akademik untuk dibina. Namun, sedikit demi sedikit mereka lepas dan tidak pernah datang kembali. Kemudian, datang seorang siswa. Dia mengatakan bahwa dia ingin sekali ikut OSN. Kalau dilihat dari siswanya dan kemampuannya, saat itu saya merasa pesimis sekali. Namun karena waktu pelaksanaan OSN semakin dekat dan sekolah menuntut untuk dikirim siswa untuk ikut OSN kabupaten, maka diapun saya rekomendasikan. Selama pembinaan, memang berat saya rasakan membina dia. Terkadang, saya harus mengulang hingga empat kali agar dia menangkap apa yang saya jelaskan. Akan tetapi ada sesuatu yang lain dari dirinya yang membuat saya tetap semangat untuk membina, yakni rasa percaya diri dan motivasi yang tinggi dalam dirinya bahwa dia akan sukses dalam olimpiade. Pernah suatu hari dia terlambat lima menit untuk pembinaan, karena dia merasa terlambat, maka diapun langsung push up sebanyak 50 kali sesuai  kesepakatan yang kita buat. Alhasil, karena OSN bukanlah sesuatu yang instant, alhamdulillah dia belum lolos ke OSN propinsi. Meskipun demikian dia berada dalam urutan delapan di kabupaten, pencapaian terbaik di sekolah kami karena waktu itu untuk matematika di sekolah kami belum ada yang menempus 10 terbaik kabupaten. Meskipun hasil tersebut mendapatkan banyak kritik dari pihak sekolah, dia belum menyerah. Meskipun tidak dapat ikut kompetisi OSN lagi karena sudah kelas 9, namun dia aktif ikut dalam olimpiade olimpide yang diadakan oleh universitas. Singkat cerita, setelah beberapa kali gagal dalam beberapa olimpiade, dia berhasil juara ke 3 dalam olimpiade matematika tingkat jawa timur dan dia berhasil diterima sekolah di MAN Insan Cendekia Serpong.

Siswa yang Memiliki Ide atau Pertanyaan Unik
Hal yang lain yang dapat dijadikan acuan adalah siswa yang kritis. Siswa kritis disini adalah siswa yang memiliki konsep yang menarik dalam memahami suatu pelajaran tertentu. Apabila dia bertanya, maka pertanyaan yang dia ajukan berbeda dengan siswa kebanyakan. Pertanyaannya selalu bersifat pengembangan ide dari materi yang dibahas.
Sedikit cerita, beberapa tahun yang lalu ketika saya menjadi wali kelas, ada seorang guru mata pelajaran fisika yang jarang hadir karena kesibukannya. Sebagai wali kelas, saya merasa bertanggung jawab atas kelas saya yang kebetulan sering kosong ketika pelajaran fisika guru tersebut. Maka dengan berbekal kemampuan fisika yang pas pasan, saya beranikan diri untuk menghandle pelajaran fisika di kelas tersebut ketika guru tersebut berhalangan hadir. Selama pelajaran, ada seorang siswa yang selalu bertanya dan pertanyaannya berbeda dengan kebanyakan siswa yang lain. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan pemahaman konsep, tapi sifatnya lebih mendalam. Melihat ada sifat dengan kecenderungan seperti itu, saya memberanikan diri untuk mengajukan kepada guru fisika untuk dibina OSN. Hasilnya, siswa tersebut berhasil lolos dalam ajang OSN Kabupaten.

Mungkin hanya dua kriteria ini yang penulis dapat paparkan. Kedua hal ini merupakan pengalaman langsung penulis ketika membina dan acuan penulis dalam menentukan siswa yang dibina hingga sekarang. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Salam!


0 comments: