Subscribe Blog Ini Untuk Mendapatkan Materi Matematika Yang Terbaru Pengkelasan "Low" dan "High" - Cara Asyik Belajar Matematika
Tuesday, 10 June 2014

Sumber gambar: industrialodorcontrol.blogspot.com
Akhir-akhir ini, banyak sekolah berusaha meningkatkan kualitas dan mutu sekolah. Usaha yang mereka lakukan adalah pembenahan administrasi sekolah dan internasionalisasi kegiatan pebelajaran. Salah satunya hal yang paling banyak dilakukan oleh sekolah adalah dengan menggunakan sistem pengkelasan berdasarkan kemampuan akademik.

Pengkelasan berasarkan kemampuan akademik adalah sebuah cara mengelompokkan siswa menjadi beberapa kelas dengan memandang kemampuan akademik mereka berdasarkan pengamatan guru atau assesment yang diperoleh


dari tes atau yang lain. Ditinjau dari segi sosial, sistem ini dipandang oleh banyak orang kurang baik, karena bersifat mengelompokkan antara siswa yang high dan low. Siswa yang berada pada kategori high akan selalu bertemu dengan siswa yang berkategori high, dan siswa yang berkategori low akan selalu bertemu dengan siswa yang berkategori low yang dapat menyebabkan kecemburuan sosial. Selain itu, sistem pengkelasan tersebut juga mempengaruhi kondisi psikologi siswa. Tingkat kompetisi di kedua jenis kelas tersebut akan berbanding terbalik. Untuk siswa yang berada pada kategori high, cenderung terpacu untuk meningkatkan prestasi akademiknya dan mengalahkan temannya, karena dia merasa bahwa mendapatkan peringkat terbaik di kelas high terasa susah. Sedangkan siswa yang berada pada kelas low, mereka cenderung bersifat adem ayem dan santai karena tidak ada sosok yang dapat dijadikan pemantik semangat mereka.

Namun demikian, sistem pengkelasan berdasarkan kemampuan akademik juga memiliki kelebihan. Bagi guru, dengan adanya sistem tersebut memudahkan guru dalam menentukan bagaimana cara penanganan siswanya. Seringkali, ketika kita mengajar dikelas heterogen, kita mengeluh masalah bagaimana cara penanganan anak. Ada siswa yang berbuat onar di kelas karena ia merasa penjelasan guru terlalu lambat dan dia sudah menguasainya, atau beberapa siswa yang mengeluhkan gurunya terlalu cepat dalam memberikan materi dikarenakan guru memandang siswanya pandai, meskipun hanya sebagian. Dengan sistem pengkelasan berdasarkan akademik, hal tersebut akan terkurangi. Guru akan menyesuaikan bagaimana mengajar dan membuat assesment untuk anak kategori yang kurang dan anak kategori pandai. Selain itu, memudahkannya dalam membuat evaluasi akan kelebihan dan kekurangan siswa-siswanya setelah proses pembelajaran.

Berdasar kekurangan dan kelebihan diatas, sudah semestinya kita sikapi dengan cara bijak. Kita tidak lantas langsung menjudge sistem ini baik atau tidak baik, terutama jika kita terjun langsung ke sekolah yang menggunakan sistem ini. Jika kita berada pada posisi tersebut, maka mau atau tidak mau harus mengikuti ketentuan yang telah dibuat sekolah, yakni menerima sistem pengkelasan tersebut. Meski terdapat kelemahan, yang terpenting adalah meminimalisasinya. Misal, jika permasalahan tersebut berhubungan dengan sosial mereka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang guru untuk menghilangkan jarak antara siswa satu dengan yang lain. Sedangkan jika psikologis masalahnya, maka guru sebagai konselor siswa haruslah menjadi motor penggerak motivasi siswa dan dekat dengan mereka. (Bagoes Darmawan)

1 comments:

Agus Chalid said...

memang dilematik. tapi semua itu dilakukan memang untuk meningkatkan kompetensi pada masing-masing kelompok