Tuesday, 17 June 2014

Sumber gambar: www.anneahira.com
Huufft...

Suara itulah yang keluar dari mulutku saat aku terduduk lesu di atas kasur kapuk berlapiskan selembar seprai bermotif tanaman. Agak lama aku termenung, tas sekolah yang masih tergantung pada punggungku yang sudah lelah menjinjing tas ini aku hempaskan ke sudut kasur. Aku kemudian berbaring di atas kasurku ini sambil ditemani suara berderit dari ranjang. Sudah tua memang usia ranjang ini. Kepala aku letakkan tepat di atas sebuah bantal yang juga dibungkus oleh sebuah kain yang motifnya mirip dengan seprai kasurku.


Agak lama aku termenung menatap langit-langit kamarku yang kecil ini. Otak ini daritadi terus saja memutar sesuatu sejak aku pulang dari sekolah tadi. Iya, sesuatuSesuatu yang terus membuat hatiku seakan mengalami “depresi” hebat. Sesuatu yang membuatku makin letih setelah sebelumnya kecapekan berkonsentrasi mengendarai sepeda motor di tengah jalan raya yang memadat. Sesuatu yang sudah lama kupendam dalam hati ini akhirnya pecah tak karuan.

Setelah sekian lama aku duduk manis di kelas dua SMA, baru kali ini aku mengetahui ada yang salah dalam diriku. Baru kali ini aku mulai merasakan bumbu-bumbu kurang manis yang mengusik kehidupanku di dunia SMA yang memang lagi hebat-hebatnya seorang remaja sepertiku. Baru kali ini aku merasa apa yang aku usahakan selama ini rupanya hanyalah seperti mobil yang berkelebat cepat di mata seorang pejalan kaki. Dilirik sekilas sebelum akhirnya tak diacuhkan lagi.

Aku selalu berusaha untuk tak menjauhi teman, apalagi yang sekelas denganku. Kuberi salam mereka, kuajak ngobrol, dan biasanya aku ikut nimbrung sama mereka. Tujuanku jelas, mempererat tali persaudaraan. Namun, lambat laun aku juga sedikit kesal pada mereka, karena apapun yang kulakukan rupanya tak dapat hal yang setimpal dengan usahaku. Mereka kadang suka mengacuhkanku di beberapa hal.

Tapi usaha itu sempat aku kobarkan lagi. Aku hibur hatiku yang sedih menerima kenyataan tadi. Aku berspekulasi, bolehlah mereka mengacuhkan diriku, tapi aku tak boleh sama sekali melupakan mereka.

Namun, entah kenapa, hiburanku itu sepertinya menguap begitu saja. Usaha yang aku kobarkan lagi tiba-tiba menjadi padam. Memang di suatu kesempatan aku sempat dipercaya oleh teman kelasku untuk menjadi wakil dalam salah satu perlombaan di suatu eventtahunan di sekolahku. Akan tetapi, kepercayaan yang diemban padaku itu sepertinya cuma seperti secarik kertas bertuliskan “kepercayaan” yang ditempel pada dahiku. Cuma ditempel, tak sampai dilirik oleh yang lainnya. Inilah yang memadamkan semangat mengakrabkan teman denganku yang sudah berkobar lagi. Dan sayangnya, peristiwa itu terjadi kemarin. Iya, kemarin di sekolah.

Sesak memang. Dan itulah yang sampai sekarang tertanam pada perasaanku. Itulah yang membebaniku di saat aku berkonsentrasi penuh dalam perjalanan pulang. Itulah yang hingga saat ini meletihkan diriku yang memang sudah letih sejak awal. Itulah yang membuat otak terus saja memutar memori-memori, tanpa henti. Aku seakan dilupakan oleh keluargaku sendiri.

Ah sudahlah... tadi itu memang nggak sengaja kok. Hati kecilku mencoba menghibur diriku yang kini kalut.

Mana mungkin nggak sengaja?! Liat sendiri kan, mereka emang sengaja begitu pada kita!

Mulai ada debat qalbu dalam diriku. Aku sendiri tak bisa melerai.

Mungkin mereka lagi sibuk, sehingga mereka tak sempat mempercayakan kita.

Sibuk!? Ha! Sesibuk apapun itu, mereka sudah keterlaluan pada kita. Bayangkan deh, sibuknya kayak gitu mereka masih sempat mempercayakan pada yang lainnya, padahal masih ada kita. Kita! Kita dilupakan!

Yaaa... tapi yang penting kan mereka sudah minta maaf tadi.

Minta maaf aja gak cukup!! Apalagi yang minta maaf tadi cuma seorang aja! Bukanmereka!!!

Perdebatan ini seakan tiada akhir, tapi aku masih saja belum dapat melerai mereka. Aku cuma bisa meredam, bukan menghentikan.
Kurasa tensi perdebatan tadi mulai menurun. Pikiranku langsung mengejar sebuah kesimpulan dari perdebatan semu itu. Namun, tiba-tiba saja otakku yang terus beraktivitas menyimpan memoriku ini tiba-tiba seperti melambat. Sepertinya otakku ingin agar aku menyaksikan lagi sebuah memori yang barusaja berkelebat dalam otakku. Mungkin, gara-gara memori yang barusaja berkelebat lagi itu, kerja otakku ini seakan dapat efek slow motion. Dan, aku langsung ingat kejadian itu.

Padahal... padahal....

===+++===+++===

“Makasih rotinya ya Mbak!”.

Aku barusaja menerima sebungkus plastik hitam yang kudapat dari seorang penjual roti bakar di pinggir jalan, saat aku dalam perjalanan pulang hari ini. Hari ini aku memang pulang terlambat, karena ada urusan yang belum dapat kuselesaikan dari waktu yang aku alokasikan untuk hari ini : pulang sejam sebelum adzan Ashar berkumandang. Hal itulah yang membuatku harus merapat ke pinggir jalan untuk membeli makanan yang minimal bisa mengganjal perutku yang kosong sejak sehabis shalat Ashar berjamaah di masjid sekolah tadi, dan menemui seorang penjaja roti bakar yang kebetulan merupakan satu-satunya di sepanjang jalan yang aku lalui.

Bertepatan, sebuah speaker yang berasal dari sebuah masjid yang kutemui tak jauh dari tempat si penjaja roti bakar itu mulai mengumandangkan adzan Maghrib, memenuhi jingganya atmosfer senja di hari itu. Sebuah suara adzan yang sudah mendapat tempat tersendiri dalam hatiku : terdengar tua, tapi kharismatik; umur senja tapi kualitasnya mirip muadzin Mekkah. Akupun dengan hati-hati menyeberang ke sisi jalan yang lainnya untuk dapat sampai di masjid yang ada di dekatku tadi. Meski aku sudah hapal betul kondisi jalan yang aku seberangi ini—sudah sering pulang sekolah lewat jalan raya ini, tapi tetap saja aku tak boleh ceroboh. Dari yang kutahu tentang jalan raya ini, kondisinya mulai ramai oleh lalu-lalang kendaraan bermotor yang hendak pulang ke rumah masing-masing setelah bekerja seharian di kantor mereka yang kebanyakan berdomisili di kota tetangga.

Hantu itu kembali gentayangan dalam pikiranku saat aku memasuki masjid yang diterangi oleh banyak lampu ini. Otakku tiba-tiba bekerja lagi, memutar memori kelam yang kualami kemarin. Beragam perasaan berbau negatif ini langsung memenuhi tiap sela-sela hatiku. Penyesalan karena baru tahu kalau diriku cuma dianggap pelengkap, mengeluh karena lebih sering tak dianggap teman sekelas sendiri. Hati kecilku pun tak mau kalah. Dia mulai menghibur dan menyangkal semua perasaan negatif tersebut. Perang batin lagi, padahal ini sudah ada dalam masjid.

Sering berkunjung ke masjid bercat biru muda ini membuatku hapal sebagian besar ruangan-ruangan di masjid pinggir jalan ini. Seakan punya denah sendiri dalam otakku, aku tak perlu susah-susah mencari tempat wudhu yang terletak di bagian belakang masjid. Tempat wudhu yang mulai ramai oleh jamaah ini punya keunikan tersendiri. Jika kita mengambil air wudhu di posisi sebelah utara, kita bisa melihat aliran sungai yang mulai kecoklatan. Di seberang sana, tampak sebuah perkampungan pinggir sungai dengan deretan rumah berasitektur sederhana. Dan itu jadi sebuah potret kehidupan tersendiri bagiku.

Ketika aku selesai mengambil air wudhu dan keluar dari kolam air yang ditujukan untuk membasahi kaki para jamaah yang hendak masuk ataupun keluar dari tempat wudhu, aku melihat seseorang yang diam menatap diriku. Entah, tapi mungkin dia sudah mengawasiku sejak tadi. Ia lalu menyapaku dengan sebuah salam dan mengajakku untuk bersalaman dengannya.

Siapa ya?, batinku sambil ragu menjawab salamnya dan menjabat tangannya yang sudah terulur ke arahku.

Orang ini seakan bisa membaca pikiranku. “Diko, Sa. Teman TK-mu dulu”, katanya.

Diko? Teman TK?

 Aku menatapnya lama sekali. Dan dia langsung merespon. “Lupa ya?”.

Aku hanya bisa menggarukkan kepalaku, padahal kepalaku tak gatal sama sekali. “Diko ya? Aduh maaf. Aku lupa”.

Kuperhatikan fisiknya yang terbungkus oleh pakaian taqwa dan sarung tenun Samarinda.Heran, aku kok gak kenal dia sama sekali ya?

Akhirnya aku dan Diko mengobrol sebentar di depan tempat wudhu. Dia bertanya hal-hal yang lazim ditanyakan pada orang yang tak pernah bertemu pada teman lamanya : kabarku dan sekolahku. Aku sendiri tak sempat menanyakan sekolahnya karena kami berdua keburu berpisah.

Seusai shalat Tahiyatul Masjid, aku lalu berpikir sejenak sambil duduk menunggu iqamat. Heran, Diko yang mengaku teman TK-ku dulu sampai saat ini bisa mengenaliku. Padahal secara fisik, diriku saat duduk sangat manis di TK dulu sangatlah berbeda dengan diriku yang mulai tersuruk-suruk di bangku kelas dua SMA. Memang, awalnya aku sempat curiga dia cuma SKSD sama aku. Akhir-akhir ini memang sudah banyak terjadi penipuan yang menggunakan modus SKSD tersebut. Cuma, dengan segala logika yang masuk akal, akhirnya aku cuma bisa berhusnudzon saja, mungkin saja aku yang memang lupa. Aku jadi nggak enak. Dia sampai sekarang kenal aku tapi diriku sendiri melupakannya.

Melupakannya? Tunggu! Bagaimana perasaan Diko begitu tahu aku melupakannya? Formalitas, aku menyimpan sesak dalam dada ketika kuketahui ada salah seorang teman yang lupa padahal aku sendiri mengenalinya. Kalaulah Diko jadi diriku, dia pasti merasakan hal yang sama denganku. Dia tadi cuma bisa tersenyum ketika aku bilang lupa Diko adalah teman masa TK-ku dulu. Tapi aku sendiri tidak tahu senyumannya itu tulus atau miris. Yang aku tahu cuma itu.

Aku lalu merenung. Jadi ini yang dirasakan oleh teman yang melupakan seseorang? Jadi seperti itu rupanya seorang yang dilupakan oleh temannya sendiri? Aku sampai saat ini masih sibuk untuk mencari cara agar aku tak dilupakan oleh teman-temanku. Padahal di sisi lain, ada orang yang berusaha untuk tetap kenal dengan seluruh teman-temannya dari berbagai generasi. Aku sendiri sampai saat ini memang tetap berusaha untuk tidak kenal lelah mengingat semua teman yang kutemui. Namun, kenapa yang satu ini luput? Entahlah. Karena mungkin terlalu sibuk mendekatkan diri ke teman-teman sekelasku, atau karena memang sudah lam atak berjumpa. Aku jadi takut. Bagaimana kalau suatu saat aku jadi senasib dengannya? Selalu ingat dengan semua temannya padahal di sisi lain beberapa teman sudah mulai melupakan keberadaannya. Dan bisa jadi, masih banyak Diko-Diko lainnya yang belum aku ingat di berbagai tempat.

Akhirnya iqamat dikumandangkan. Sekilas, aku tak dapat melihat posisi Diko sekarang ini. Ketika aku berdiri tegak di barisan pertama dan siap untuk berjumpa dengan Sang Maha Kuasa, aku ingin segera memohon ampun dan berdoa aga hal ini tak terjadi lagi padaku. Cukuplah ini sebagai sebuah peringatan dariNya.

===+++===+++

Dan di dalam kamarku, aku bisa ambil sebuah kesimpulan untuk hari ini. Untuk semua yang telah aku jalani seharian ini. Untuk berbagai kejadian yang sudah aku kerjakan hingga malam ini. Untuk semua perasaan yang telah aku alami sampai sekarang ini.

Akulah yang berada di pihak yang salah. Aku yang selalu berusaha untuk kenal dekat dengan teman sekelasku padahal ada yang masih berusaha untuk dekat denganku. Aku yang tak kenal lelah mengingat mereka semua padahal ada yang masih ingat diriku. Aku yang selalu menggerutu begitu tahu keberadaanku ditiadakan oleh mereka, padahal masih ada orang yang setia jujur mengakui keberadaanku di dunia ini. Dan satu lagi : kenapa selama ini aku mengejar hal yang sebenarnya belum tentu menjadi penyelamat akhir hidupku?

Penyesalan berganti ketenangan. Kini aku tak peduli lagi mereka mengakui keberadaanku atau tidak. Usahaku untuk tetap berteman tetap ada, tapi aku tetap yakin bahwa sekuat apapun usahaku jika tak membuahkan hasil yaaa sudah... . Allah mungkin punya jalan lain untukku.

Cukuplah Diko sebagai pukulan telakku hari ini. Aku cuma ingin berteman, bukan untuk dikenal. Aku hanya ingin bersilaturrahmi, bukan untuk mengadakan keberadaanku. Aku cuma ingin mengukir kenangan bersama mereka, bukan untuk terus mengingatku. Aku cuma ingin nama mereka tetap terukir kuat di dalam otakku, bukan untuk mengukir namaku di masing-masing hati mereka. Memang aku bisa membedah hati mereka semua?

Adzan Isya’ berkumandang dari speaker ponselku. Aku segera bangkit dan bersiap diri menuju masjid terdekat. Karena yang kutahu, butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke masjid terdekat, dan biasanya iqamat berkumandang tepat ketika aku baru melangkah di serambi masjid. Aku tak mau Sang Maha Mengingat hambaNya mulai melupakanku, dan aku juga tak mau melupakan Sang Maha Pencipta.



Trims atas perhatiannya 
By Iqbal S. Putra

0 comments: