Thursday, 12 June 2014

Sumber gambar: blogkrizeer.blogspot.com
Tidak terasa pengumuman ujian nasional (UN) SMP tinggal satu hari lagi. Saat ini banyak siswa yang harap harap cemas menantikan hasilnya. Semoga untuk semua siswa mendapatkan hasil yang terbaik dan memuaskan.

Berbicara mengenai ujian nasional, kali ini penulis ingin membahas mengenai soal ujian matematika ujian nasional 2014 yang lalu sembari menunggu keluarnya hasil ujian nasional. Kita tahu bersama, UN matematika SMP 2014 mengundang reaksi dari masyarakat. Hal tersebut dikarenakan soal yang dikeluarkan pada UN kali ini memiliki pembobotan soal yang berbeda dengan tahun sebelumnya.


Jika sebelumya didominasi oleh soal tingkat kesulitan sedang dan mudah, maka tahun ini soal lebih didominasi oleh soal dengan tingkat kesulitan kategori sulit. Selain itu, pada UN tahun ini, pada soal matematika terdapat soal PISA dengan standar internasional. 

Namun demikian,tidak bijak rasanya jika kita langsung menyimpulkan jika soal tersebut, tidak baik atau tidak sesuai dengan kisi-kisi yang ada. Semula, penulis juga berpendapat sama ketika pertama kali membuka naskah soal tersebut, namun ketika penulis cermati baik-baik, ternyata soal tersebut tidak salah. Seluruh butir soal tersebut sesuai dengan kisi kisi UN, hanya saja penyajiannya dibuat lebih variatif. Sedangkan untuk tingkat kesulitan, penulis memang mengakui untuk beberapa soal memang sulit, karena untuk pengerjaannya membutuhkan penalaran yang baik. Hal ini yang mungkin kurang dilakukan oleh kita sebagai guru ketika memberikan latihan soal kepada siswa sehingga siswa kurang reverensi akan soal. Sebagai contoh adalah soal berikut:

Kalau dilihat sekilas, penulis berpikir kalau soal tersebut adalah soal mengenai vektor. Namun, vektor adalah salah satu materi sekolah menengah atas. Setelah penulis teliti, ternyata untuk pengerjaannya tidak harus menggunakan cara vektor, karena soal masih dalam kategori soal persamaan garis lurus. Jika terdapat tiga titik yang segaris, maka gradien garis dua titik akan sama dengan sama dengan gradien dari dua titik yang lain. Gradien dari titik (3,d) dan (-2,10) sama dengan gradien dari titik (-2,10) dan (1,1). Masalahnya, tidak semua anak paham dengan konsep ini,karena untuk menyelesaikan soal dengan cara ini siswa perlu memahami mengenai konsep garis yang berhimpit dan gradien garis yang berhimpit. Sedangkan kebanyakan dari kita, para guru lebih sering membahas mengenai cara menentukan gradien dari dua titik.

Hal lain yang juga menarik pembahasan saya adalah terdapanya soal berstandar internasional pada nomor 21. Terlepas dari soal jiplakan atau copy paste, soal nomor 21 adalah soal yangcukup menarik. Soal disajikan dalam bentuk bacaan dan disertai dengan gambar. Beberapa orang menilai bahwa soal ini tidak perlu diberikan karena terlalu sulit dan terlalu mubazir dalam penyajiannya, namun di sisi lain soal ini dapat mengasah pemahaman anak mengenai matematika yang dihubungkan dengan permasalahan yang aktual dalam kehidupan. Penyajian soal dalam bentuk bacaan yang panjang dapat 
menguji kemampuan siswa dalam membaca. Namun, untuk penggunaan soal semacam ini pemerintah perlu mensosialisasikannya terlebih dahulu kepada para guru di Indonesia, mengingat kondisi pendidikan di Indonesia sekarang yang kebanyakan masih bersifat konvensional. sehingga guru dan siswa dapat mempersiapkan dari awal.




0 comments: