Saturday, 9 August 2014

Biji zandeem. Menurut legenda, biji ini mengandung inti dari salah satu elemen penyusun dunia Fanjasia, sebuah dunia dari dimensi berbeda yang mirip dengan Bumi kita. Konon, jika seseorang tertelan biji itu, bisa dipastikan ia telah memiliki kemampuan untuk mengendalikan salah satu elemen. Namun, agar dirinya mahir menguasai teknik-tekniknya, mau tidak mau ia harus masuk ke Madraushon, sekolah khusus bagi orang-orang yang tertelan biji zandeem. Di sana akan ada banyak misi, latihan, dan turnamen yang bertujuan untuk melatih semua murid menjadi benih-benih baru Orang Terpilih yang akan mengemban tugas utama untuk menjaga keamanan dunia Fanjasia.
Arekha, Arikha, dan Kei adalah diantaranya. Ketiga anak itu sudah harus masuk ke Madraushon dengan sistem pengajaran yang ketat di saat teman-temannya masih menikmati suasana sekolah yang lengang. Hampir tiap hari mereka harus berlatih mengendalikan elemen yang mereka kuasai. Mereka juga mendapat misi yang bermacam-macam di tiap pekannya.
Salah satu misi yang mereka terima adalah hari ini. sudah 2 jam mereka menyusuri hutan yang letaknya berdekatan dengan dusun mereka untuk menyelesaikan sebuah misi yang harus mereka tuntaskan hari ini juga.
“Memang misi kita kali ini apa sih Kak?”, tanya Arikha. “Dari awal aku belum diberitahu loh”.
Arekha terkejut mendengarnya. “Ah, masa, sih, Dik?”, ujarnya tak percaya. Arikha langsung menggeleng kepalanya. Dua lembar kain yang melingkari wajahnya ikut bergoyang.
Kei dengan tanggap menjawab pertanyaan adik perempuan Arekha itu. “Nyari Asruille rawi, Dik. Itu lho, yang dibilang tanaman langka yang katanya cuma ada di hutan ini. Sebangsa rerumputan”, jelasnya. Punya teman pintar semacam Kei membuat Arekha dan adiknya serasa memiliki ensiklopedia berjalan.
Arikha langsung menangkap sesuatu dalam pikirannya. “Oooh... tanaman itu. Aku pernah dengar katanya tempat tumbuhnya di sebelah barat Lahan Tenda”, serunya.
Sontak, Arekha dan Kei berhenti melangkah. Mereka berdua kaget rupanya ada yang tahu persis lokasi tumbuhnya Asruille rawi. “Beneran, Dik?”, kata Arekha yang masih kaget.
“Beneran, Kak. Aku dengar sendiri itu”.
Segera, Kei meraih sebuah peta dari saku celananya,lalu mengamati isi peta itu. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan kompas dari sakunya yang lain. Kei kemudian berputar beberapa derajat sambil tetap memperhatikan kompas yang ia pegang. Lalu, ia menurunkan kompasnya dan menatap lurus di depannya. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah takjub ditambah tidak percaya. Dan semua gerak-gerik Kei diikuti juga oleh Arekha da Arikha.
“Kita hampir sampai, Kak!”, ujar Arikha sampai melompat-lompat kegirangan. Ia langsung berlari menuju Lahan Tenda, mendahului Arekha dan Kei yang masih diam seribu bahasa.
Punggung Kei tiba-tiba ditepuk oleh Arekha. “Hei! Jangan bengong aja! Adikku udah duluan, tuh”, celetuk Arekha, membuat Kei terkaget. Mereka berdua lalu menyusul Arikha hingga sampai di tengah-tengah Lahan Tenda yang luas. Tiba-tiba...
BLAR!
“Kyaaa!!!”. Arikha yang sampai duluan di Lahan Tenda itu tiba-tiba saja jatuh terlempar saat sebuah bola api menghantam tanah dan hampir mengenai dirinya. Jeritan si adik sempat membuat Arekha panik dan langsung berlari ke Arikha yang ketakutan melihat bola api di depannya. Tanpa pikir panjang, saat itu juga Arekha langsung memeluk adiknya itu dengan kelegaan karena melihat Arikha tak celaka. Namun, Kei yang tiba belakangan berusaha menepuk-nepuk pundak Arekha, berusaha memanggilnya.
“Rekha. Coba liat ke atas”, ucap Kei sambil ketakutan melihat ke atas.
Seekor naga tiba-tiba terbang di atas Arekha, Arikha, dan Kei yang terpaku melihatnya. Naga besar yang kulitnya dari kerak-kerak lahar yang hitam mengeras serta cahaya merah panas yang berpijar di tiap celah keraknya itu menghalangi misi 3 anak Orang Terpilih itu yang sebenarnya sudah antiklimaks. Naga mengerikan yang kerap dijuluki Naga Lahar itu menyemburkan api lewat mulutnya, membuat 3 anak itu terjebak di dalam lingkaran api yang mengitari Lahan Tenda. Belum puas, naga itu kali ini menyerang Arekha, Arikha, dan Kei dengan semburan apinya yang panas membara. Beruntung, mereka bertiga masih punya kesempatan menyelamatkan diri dengan melemparkan diri mereka sambil berpencar.
Tahu-tahu, tubuh Arekha melayang di atas tanah, dan kini ia terbang untuk menghadapi Naga Lahar dengan kemampuannya mengendalikan elemen udara. Sang naga hitam yang tahu Arekha ada di depannya langsung menatap Arekha tajam. Namun, Arekha tak gentar. Ia justru mengambil posisi menyiapkan jurus Bola Meriam Udara-nya yang besar. Dan, BUM! Bak meriam ditembakkan, Bola Meriam Udara itu terlontar dari kedua tangan Arekha hingga tepat mengenai tubuh naga yang besar itu, membuat naga itu terlempar beberapa jauhnya.
“Hei, Rekha! Apa yang kau lakukan?!”, teriak Kei dari bawah. “Kau sadar apa yang sudah kau lakukan!?”.
“Iya, aku tahu kok. Aku cuma ingin menjauhkannya sebentar”, balas Arekha santai. “Dik Rikha! Bisa kau bawa air yang banyak dari sungai Poltza?”, lanjut Arekha. Kali ini nadanya serius.
“Tapi gimana caranya kesana, Kak?”, ucap Arikha tak mengerti. “Kita kan, masih terjebak”.
“Pakai portal Dimensi-nya Kak Kei!”.
Dengan cepat Arikha berlari menuju Portal Dimensi dari Kei dengan kekuatan elemen ruang dan dimensi—sesuatu yang terbilang jarang di kalangan Orang Terpilih. Sementara itu, Arekha mengalami pertarungan dengan Naga Lahar. Sempat terlempar akibat efek Perisai Udara-nya yang diseruduk sang naga yang tiba-tiba terbang menghampirinya dengan kecepatan tinggi, Arekha akhirnya bisa membalas naga itu dengan rentetan Bola Meriam Udara yang kali ini lebih kecil dari sebelumnya. Arekha memang berniat tak melempar naga itu sampai jauh, seperti yang ia lakukan sebelumnya.
“Kakak! Aku sudah bawa airnya!”, teriak Arikha dari dalam Portal Dimensi-nya Kei yang kemudian disusul dengan suara gemuruh air.
“Bagus Dik!”, puji Arekha yang sudah di atas Lahan Tenda kembali. “Tahan airnya sebentar, Dik! Kei, bisa bantu aku? Buat naganya melemah”, perintahnya. Kemudian, sambil mempertahankan portalnya, Kei membuat Tombak Ruang yang berwarna nila transparan itu dengan jemarinya. Dengan satu tangan, Kei melemparkan tombak-tombak itu ke arah naga yang masih sibuk berhadapan dengan Arekha. Cep-Cep-Cep! Kelima tombak yang dilempar Kei berhasil mengenai sasaran.
Sang naga mulai melemah akibat lima Tombak Ruang-nya Kei yang menusuk kulit hitamnya. Badannya mulai terhuyung. Arekha yang membaca keadaan langsung membumbung hingga beberapa kaki dari naga, lalu ia mengeluarkan Bola Meriam Udara yang lebih besar dari ukuran saat Arekha melempar jauh Naga Lahar. Dan... GEDEBUM! Tubuh naga itu mengalami pendaratan yang sangat keras di Lahan Tenda. Naga itu kini tak berdaya.
“Arikha, sekarang!”, seru Kei. Arikha keluar dari portal dengan membawa berliter-liter air yang melayang. “Dik Rikha, kita lakukan sama-sama ya. Kamu guyur badan naga ini, lalu kakak yang menyelesaikannya”, perintah Arekha kepada adiknya. “Kita buat naga ini beku”.
Akhirnya, dengan siraman air sungai Poltza dari Arikha yang kemudian dibarengi dengan Hembusan Udara Dingin yang keluar dari kedua tangan Arekha, tubuh Naga Lahar yang tak berdaya itu perlahan mendingin, hingga sekujur tubuhnya kini membeku.

“Lalu, mau kita apakan naga beku ini?”, celetuk Kei setelah Arekha dan adiknya usai melakukan pembekuan naga. Sebuah ide tiba-tiba terlintas dalam piiran teman baik Kei ini. “Kita kurung dia dan kirimkan ke Pusat Pertahanan. Pasti kaget mereka”, ujar Arekha sambil cekikikan. Sebelum Kei bertanya, Arekha sudah tahu isi kepalanya. “Pakai elemen ruang dan dimensimu kan bisa?”.
“Udah deh. Ayo lanjut. Dik Rikha, padamin dulu api di Lahan Tenda, ya?”, lanjut Arekha.

0 comments: