Monday, 10 October 2016

Kebanyakan dari kita, berpikir bahwa siswa yang berprestasi dalam bidang akademik bagaikan sebuah mutiara yang terpendam. Siswa tersebut dapat membanggakan kedua orang tuanya, membawa nama baik sekolahnya, dan menjadi buah bibir di khalayak umum. Tidak heran, jika di sekolah terdapat siswa yang memiliki kelebihan dalam hal akademik, mereka sangat mengopeni sekali siswa tersebut dan selalu memberikan fasilitas lebih kepada mereka. Kenyataan tersebut yang kemudian menggiring opini publik bahwa sekolah yang baik jika sekolah tersebut menghasilkan siswa yang berprestasi dalam bidang akademik.

Realitanya, di sekolah manapun pasti terdapat pula siswa yang kurang berprestasi seperti kurang memiliki minat belajar, sering mendapat remidi, prestasi akademik rendah, atau sering membuat onar di dalam kelas. Yang kemudian menjadi pertanyaan, bagaimana kita menyikapi siswa yang seperti demikian? Apakah membiarkannya begitu saja atau menegur dan memarahinya terus-menerus? Tentu saja tidak demikian. Kita sebagai seorang pendidik tentu harus bersikap adil, proporsional, dan bijaksana. Karena siswa demikian memang membutuhkan perhatian yang ekstra. Selain itu siswa tersebut tidak selamanya tidak berprestasi. Salah satu contoh siswa tersebut adalah murid kelas 9 penulis.

Sebut saja namanya adalah Rio, dia adalah salah satu siswa di sekolah tempat penulis mengajar. Sehari-hari, Rio dikenal sebagai anak yang baik dan hampir tidak pernah melakukan pelanggaran sekolah atau asrama. Akan tetapi Rio adalah anak yang memiliki kekurangan dalam bidang akademik, terutama pelajaran matematika. Parahnya lagi dia termasuk lima besar siswa dengan kemampuan matematika yang kurang di angkatannya. Dalam kegiatan belajar mengajar matematika, yang dapat dia lakukan hanya dapat mencatat soal latihan yang sudah dibahas didepan kelas, karena dia sama sekali tidak paham mengenai maksud dari pelajaran tersebut.

Yang membuat penulis cukup apresiasi kepada Rio, meskipun dia tidak bisa matematika dia tidak menunjukkan ekspresi negatif akan pelajaran tersebut. Hal tersebut terlihat ketika penulis memberikan tugas matematika, dia tidak pernah mengabaikannya. Dia selalu mengumpulkan tugas tersebut tepat pada waktunya. Bahkan, ketika penulis mengumumkan daftar siswa yang belum mengikuti remidial atau siswa yang belum mengumpulkan tugas di akhir semester, dia tidak pernah masuk kedalam daftar tersebut dikarenakan rajinnya dalam mengumpulkan tugas dan aktifnya dia mengikuti kegiatan remidial.

Ujian Akhir Nasional 2016 semakin dekat, kulihat ada yang berbeda dari Rio. Jika biasanya dia terlihat aktif, akhir-akhir ini dia semangatnya mulai menurun. Beberapa kali dia tercatat absen ketika kegiatan pembelajaran. Selain itu, ketika pada try out ke 9 dia kedapatan penulis mencontek ketika mata pelajaran matematika. Melihat hal tersebut penulis berusaha mendekatinya. Penulis mencoba menanyakan alasan mengapa dia mencontek. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia begitu tertekan dengan atmosfir ujian. Ujian seakan-akan menekan dan menghantui dirinya yang sangat kurang dalam mata pelajaran matematika. Dia mengatakan bahwa dia juga ingin mendapatkan nilai matematika yang layak seperti temannya. Setelah mendengar semua itu, penulis kemudian memberinya sebuah nasehat.
"Kecemasan dalam ketika akan menghadapi ujian adalah sebuah modal yang besar untuk sukses dalam ujian tersebut. Mengapa demikian, karena melalui kecemasan itu kita jadi merasa bahwa kita adalah bagian dari hal tersebut, sehingga kita akan berusaha lebih keras untuk menggapainya. Untuk masalah kekurangan dalam matematika itu bukanlah alasan kita untuk menyerah, karena kelemahan yang ada pada diri kita sebenarnya sebuah potensi besar dan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita.  Kekurangan tersebut membuat kita memiliki spirit dan kemauan keras untuk selalu berdoa  yang jauh lebih besar daripada orang lain untuk melawan kekurangan kita tersebut. Spirit kita dan doa kita itu adalah sebuah kelebihan melebihi kecerdasan ataupun lainnya. Maka, jika terdapat tembok yang kokoh dihadapmu kamu harus pukul tembok tersebut hingga hancur."
Setelah mendengar penjelasan penulis, diapun mengangguk dan terdiam.

Seminggu sebelum ujian nasional Rio meminta les kepada penulis. Dalam les tersebut dia terlihat antusias dan serius, meskipun kadang-kadang dia mengeluhkan akan tensi ujian yang menyiksanya. Maklum Rio adalah siswa SMP yang masih labih seperti halnya siswa SMP lainnya. Selain itu dia juga berusaha mengulang pelajaran tersebut malam harinya hingga pukul 23.30, meskipun esoknya dia harus bangun pukul 04.00 untuk sholat shubuh. Kesemuanya itu kuketahui dari teman-temannya. Sehari sebelum UN penulis berjanji kepada Rio akan mentraktir bulgogi (makanan Jepang) jika dia berhasil mendapatkan nilai minimal 8,00. Dal hati penulis sempat berkata mungkin peluangnya cukup kecil untuk mendapatkannya mengingat 3 tahun terakhir soal UN matematika memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Kuasa Allah memang mengalahkan segalanya, termasuk prediksi dan perhitungan manusia. Hari yang dinanti nantipun tiba, yakni hari pengumuman hasil ujian nasional 2016. Ketika mendengar pengumuman UN telah sampai ke sekolah, penulis bergegas melihatnya. dari daftar tersebut, nama pertama yang kulihat bukanlah nama siswa yang selalu mendapatkan nilai 10 ketika try out matematika, namun Rio. Begitu terkejut sekaligus senang ketika melihat skor 8.25 untuk mata pelajaran matematika. Terkejut karena masih tidak percaya bahwa Rio dapat memperoleh nilai setinggi itu dan senang karena akhirnya penulis dapat membuktikan bahwa siswa yang tidak bisapun juga dapat berhasil. Dari kejadian ini, penulis semakin yakin bahwa kesuksesan itu bukan hanya dimiliki oleh orang yang pandai, kuat, atau memiliki potensi lainnya. Namun kesuksesan terjadi jika kita mau berdoa bersungguh sungguh dan mau menghancurkan tembok terjal dalam dirinya. Don't Stop Until You Hit The Wall!!!



 






0 comments: