Tuesday, 31 March 2015

Sumber gambar: hanifahatari.wordpress.com
Pernahkah kalian melihat film kartun yang berjudul naruto? Naruto merupakan seorang anak dari sebuah desa ninja yang dianggap sebagai pembawa masalah didesa, pembuat onar, marabahaya, dan lain. Disisi lain, naruto merupakan seorang anak yang memiliki karakter pekerja keras, tidak mudah dan menyerah. Dengan keteguhan hatinya dan kesabaran gurunya dalam mengajari naruto, seiring berjalannya waktu semua penduduk desa menerimanya dan di penghujung cerita dia berhasil menjadi seorang hokage seperti yang dia impi-impikan. 






Seringkali, kita sebagai pendidik menemukan siswa yang berbeda dengan siswa pada umumnya, entah itu siswa yang susah sekali dalam memahami pelajaran, siswa yang tidak fokus, atau bahkan siswa yang selalu suka membuat masalah dalam pembelajaran. Siswa-siswa dalam kategori seperti ini, tidak jarang kita sebut sebagai siswa yang bermasalah, trouble maker, atau learning disability. Namun apakah istilah-istilah tersebut pantas kita kenakan untuk mereka?

Setiap manusia, termasuk juga seorang siswa adalah makhluk yang unik. Disebut unik karena pada diri setiap manusia terdapat potensi luar biasa. Potensi tersebut bisa dalam bentuk kecerdasan, kekuatan fisik, keterampilan, atau potensi lainnya. Potensi-potensi tersebut berbeda antara satu sama lain. 

Dari potensi-potensi tersebut, ada satu potensi yang seringkali dilupakan atau tidak diketahui oleh banyak orang, yakni motivasi. Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitasarah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.[1] Tiga elemen utama dalam definisi ini diantaranya adalah intensitas, arah, dan ketekunan.(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi)
Berdasarkan definisi tersebut, berarti motivasi merupakan alasan yang mendasari seseorang melakukan suatu perbuatan tertentu dengan bersungguh-sungguh. Motivasi dapat dimiliki oleh setiap orang, namun tidak semua orang menyadarinya. Hal tersebut dikarenakan faktor lingkungan tempat dia berada, masa lalu yang dijalani oleh seseorang, atau hal-hal yang lainnya.

Kembali kepada masalah-masalah siswa diatas, meskipun mereka cukup susah dalam menerima suatu pembelajaran, bukan berarti mereka tidak dapat berubah. Hal tersebut dikarenakan pada diri siswa tersebut masih terdapat motivasi dan motivasi tersebut masih belum mereka temukan. Berdasarkan pengalaman penulis, ketika dalam keadaan santai dan tanpa beban penulis mengobrol dengan siswa mereka. Ketika penulis berbicara yang berhubungan dengan cita cita dan keinginan, rata-rata mereka menjawab mereka ingin menjadi seorang yang hebat. Berdasarkan hal tersebut penulis sadar bahwa sebenarnya mereka bukanlah seorang trouble maker ataupun learning disability , namun mereka membutuhkan keyakinan dan kepercayaan dalam dirinya kalau mereka itu bisa.

Agar mereka mempunyai itu semua, guru sebagai konselor siswa memiliki peranan yang sangat penting. Sangat perlu bagi seorang guru meluangkan sebagian waktunya untuk memberikan perhatian dan memahami mereka. Memang hal seperti ini bukanlah suatu hal yang mudah, namun siapapun siswanya, jika kita berikan motivasi secara terus menerus, lama lama hati mereka akan "jebol"dan perlahan-lahan motivasi tersebut akan mengena. Jika hal tersebut dapat kita lakukan, maka tidak mustahil jika mereka dapat berhasil seperti halnya teman temannya yang lain karena motivasi yang mereka terima dari kita, ia kembangkan terus dalam bentuk doa, usaha, dan kerja keras mereka. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!




0 comments: