Friday, 23 May 2014

Lima tahun belakangan ini, olimpiade matematika atau kompetisi matematika sangat digemari oleh sekolah-sekolah, baik sekolah negerimaupun sekolah swasta. Hal ini dikarenakan dengan mengikutkan siswa siswi mereka dalam ajang kompetisi seperti ini, akan mendatangkan banyak manfaat, baik bagi siswa itu sendiri maupun sekolah. Bagi siswa, dengan mengikuti kompetisi atau olimpiade matematika semakin mengasah kemampuan matematika mereka dan sebagai sarana untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Sedangkan bagi sekolah, mengikutkan siswa siswinya kedalam berbagai kompetisi atau olimpiade, dapat meningkatkan kualitas sekolah mereka.


      Banyak upaya dan daya dilakukan oleh banyak sekolah agar sekolah mereka dapat tampil sebagai juara. Mulai dari menyusun kurikulum yang didalamnya memuat pelatihan olimpiade, memasukkan olimpiade sebagai salah satu eksrakulikuler, membuat kelas khusus untuk menyiapkan siswa berbakat, hingga mendatangkan pelatih olimpiade top dari lembaga lain atau dari perguruan tinggi. Sehingga, tidak sedikit sekolah yang mengeluarkan uang cukup besar untuk mengegolkan hal ini.

      Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah kalau untuk melejitkan siswa dengan cara diatas, bagaimana dengan sekolah yang memiliki keterbatasan dalam hal finansial maupun sumber daya? Apakah kemudian mereka mengubur mimpi dan harapan siswa mereka untuk lebih berprestasi? Tentu saja tidak.

      Sekedar berbagi pengalaman, tiga tahun yang lalu kepala sekolah menugaskan beberapa guru bidang studi olimpiade untuk studi banding ke salah satu SMP Islam di Jawa Timur untuk belajar bagaimana cara dalam membina olimpiade. Menurutnya, sekolah tersebut dipilih dikarenakan sekolah tersebut sering mendapatkan penghargaan medali OSN (Olimpiade Sains Nasional). Mendengar cerita beliau, terbayang dalam pikiran saya kalau sekolah tersebut terbilang sekolah mahal dan berkelas.

     Sesampai disana, ternyata apa yang saya bayangkan ternyata berbeda. Sekolah tersebut ternyata sama dengan sekolah sekolah kebanyakan. Tidak ada sesuatu yang spesial disana, termasuk fasilitas atau pembina dari perguruan tinggi. Namun,mereka menjelaskan bahwa untuk menyiapkan siswanya mereka terus memotivasi siswanya agar terus berlatih dan mencari hal hal yang baru yakni melalui setoran soal dan jawaban. Selain itu, di sekolah tersebut diberlakukan kewajiban untuk belajar malam.

      Berbekal dari ilmu dari studi banding yang kami lakukan, saya dan teman-teman berusaha untuk menerapkan hal tersebut. Mulai dari memotivasi anak untuk menyukai belajar dan bekerja keras. Tidak mudah memang, terlebih lagi dengan sekolah sistem berasrama dimana kegiatannya sangat padat membuat kami harus ekstra bekerja keras memutar otak. Namun dengan upaya terus menerus memberikan pembinaan internal dan setoran soal secara istiqomah mampu mengntarkan siswa menjadi yang terbaik. Melihat hal tersebut, akhirnya kami berpikir, untuk membuat siswa kita berprestasi, ternyata tidak membutuhkan biaya yang mahal,namun diperlukan keihlasan, kerja keras, dan satu yang tidak boleh lupa, yaitu motivasi tinggi dan doa.

     

0 comments: