Wednesday, 21 May 2014

Kata banyak orang, untuk menikmati hidup ga selalu dengan hal-hal yang sifatnya mewah dan fasilitas yang serba ada, namun menikmati hidup dapat juga dilakukan dengan hal-hal yang sifatnya terbatas dan penuh perjuangan, tergantung bagaimana cara kita melihat suatu hal.
Ini adalah salah satu pengalamanku yang tidak terlupakan, yakni pengalaman ketika aku memulai jenjang karirku di dunia pendidikan. Seperti halnya sarjana lain yang baru lulus, aku mencari pekerjaan yang dalam hal ini adalah guru. Pada saat itu, yang kupikrkan adalah melamar pekerjaan, tes, wawancara, kemudian diterima kerja (maklumlah sarjana baru lulus). Aku masukkan beberapa surat lamaranku ke sekolah-sekolah yang aku anggap baik dan dapat mensejahterakan aku. Dengan optimisme yang tinggi, aku selalu berada di dekat telepon setiap harinya untuk menunggu panggilan. Hari-demi hari berlalu dan panggilanpun tidak kunjung tiba. 


Akupun tidak menyerah begitu saja, aku kemudian membuat beberapa surat lamaran pekerjaan, namun usaha tersebut tetap saja nihil. Tidak satupun surat lamaranku tembus.
Suatu sore, telepon rumahku berdering. Aku angkat telepon. Terngar suaru seorang perempuan yang belum kukenali suaranya. Setelah aku anya siapa dia, ternyata dosenku dan aku disuruh untuk menemuinya. Akupun menemuinya dan dia menawariku untuk mengajar di sebuah SMA di Kabupaten Malang namun dia tidak memberi tahu kepadaku mengenai bagaimana kondisi daripada sekolah tersebut. Tanpa berpikir panjangm akupun mengiyakan dan dia memberiku alamat sekolah tersebut.
Keesokan harinya dengan berpakaian yang sangat rapi berbekal surat lamaran pekerjaan, akupun mendatangi tempat dimana aku akan mengajar. Setelah sampai disana, betapa terkejutnya aku ketika melihat kondisi sekolah. Sekolah tersebut sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, sekolah tersebut hanya terdiri dari beberapa kelas yang sifatnya menyewa dan fasilitas yang seadanya. Jumlah muridnya dapat dihitung dengan jari dan satu lagi yang sangat tidak memadai, yakni gaji bulanan yang hanya cukup untuk transportasi tiap harinya. Terus terang kecewa sih, namun pantang bagiku untuk menarik kembali kata-kataku.
Namun demikian, setelah beberapa bulan aku bekerja disana, aku menganggap apa yang kulakukan bukanlah sesuatu hal yang sia-sia. Aku bersyukur sekali karena Allah menunjukkan SMA tersebut sebagai tempat kerjaku yang perdana. Pertama, aku mendapat pelajaran penting bahwa hitungan Allah tidaklah sama dengan hitungan matematis. Ini terbukti dari gaji yang kuterima selama aku mengajar di SMA tersebut tidak membuat aku kekurangan malah aku merasa sedikit tidak tergantung oleh orang tua. Kedua, aku belajar bagaimana memahami terhadap segala sesuatu, karena hal ini sangat penting bagi seorang pendidik ketika ia menjadi guru . Dan yang paling berkesan, disana aku bertemu seorang guru yang sangat disiplin dan profesional dalam pekerjaannya meski apa yang dia terima tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Pernah aku bertanya kepada mengapa ia lakukan itu semua dan ia menjawab bahwa cita-citanya adalah bagaimana menjadi manfaat bagi orang lain.  "SUBHANALLAH!!! terima kasih ya ROBB, engkau memberikanku pendidikan hidup yang tak ternilai harganya dan menunjukkan guru kehidupan untukku.
Kini, meski aku tidak lagi mengajar di tempat tersebut dan kehidupanku lebih baik, aku tetap terkesan sekali dengan SMA tersebut. Akupun semakin yakin bahwa apapun yang kita dapatkan pasti adalah semata-mata karena rasa kasing sayang ALLAH kepadaku, mungkin jika tempat kerja pertamaku adalah sekolah yang sangat prestisius, bisa jadi aku jadi kufur nikmat. Terima kasih Ya Robb!

0 comments: