Saturday, 24 May 2014

“Assalamualaikum,Bos!”.
Aku kaget begitu mendengar sapaan yang terdengar cukup keras di tengah kesibukan yang baru saja dimulai di sebuah kompleks stasiun kereta di daerahku, saat aku tengah berdiri seorang diri tepat di depan bangunan tua berarsitektur kuno bercat hijau muda ini. Kepalaku kini sibuk mencari-cari asal suara itu. Sekilas, kutemui seseorang dengan senyum lebarnya berlari ke arahku dengan melambai-lambai,mengisyaratkanku kalau dia orang yang aku cari pagi ini.



“Waalaikumussalam!”,balasku saat kujabat tangan orang yang menghampiriku dengan riang tadi.“Gimana, Bro? Sehat?”.
“Yaahh,alhamdulillah...”, jawabnya. “Lama gak ketemuan lagi nih. Emang sebenarnya kamu ada acara apaan sampai ngajak aku segala hari ini?”.
“Di Facebook ada undangan reunian khusus alumni SMA se-angkatan kita di Jakarta. Mau nggak? Kalogak mau ikut aku bisa cancel nih, mumpung lagi di stasiun, khusus buat kamu aja”, selorohku sambil sedikit guyon padanya.
“Jangan gitu dong. Aku mau lah ke Jakarta!”.
“Yuk, buruan masuk. Bentar lagi pintunya kebuka tuh!”, seruku sambil ekor mata ke arah gerbang yang kumaksud. Sebuah gerbang yang lebih mirip gerbang penjara yang sudah dikawal oleh dua orang petugas berseragam putih dari balik gerbang itu menjadi gerbang bagi kami berdua dan seluruh penumpang untuk bisa masuk ke ruang tunggu kereta. Istilahnya, hampir sama dengan peron di pesawat.
“Emang kita berangkat jam berapa sih?”, tanya dia lagi.
Aku melirik kearloji hitamku yang melilit pergelangan tangan kiriku. “Sekitar jam enam kurang seperempat. Sepuluh menit sebelumnya seharusnya udah buka itu gerbang”, sahutku. Memang, jam arlojiku saat ini menunjukkan pukul setengah enam lebih lima menit. “Syukur alhamdulillah kamu tadi tepat waktu. Telat dikit bisa-bisa aku tinggal kamu”, selorohku lagi.
“Yaah... gitu lagi...”, katanya dengan nada kecewa. Tapi aku tahu selorohku tadi cuma dianggap guyon saja olehnya. “Maaf sih, aku tadi baru siap-siap jam lima kurang seperempat. Untung jalanan sepi, jadi bisa kejar waktu”, jelasnya.
Kami berdua lalu masuk ke gedung tua ini untuk masuk ke gerbang yang baru dibuka tepat empat menit sebelum jam enam kurang seperempat. Kuserahkan tiket kereta yang kubeli dari loket stasiun beberapa hari lalu kepada dua orang penjaga gerbang ini sebelum akhirnya dihantam stempel berwarna ungu oleh salah seorang penjaga yang duduk di bangku yang telah disediakan khusus untuk mereka berdua.
Barusaja kami duduk di salah satu kursi di “peron” stasiun, kami sudah larut dengan obrolan kami berdua. Maklum, kami berdua sudah sering tak tatap muka sejak kami lulus dari SMA kami lebih dari setahun lalu. Seorang penjaja koran tiba-tiba datang menghampiri kami berdua di tengah serunya “reunian kepagian” kami berdua. Kutawari temanku itu, dan satu jawaban “iya” langsung mengalir dari mulutnya. Kukeluarkan 1 lembar uang berwarna coklat dari dompetku dan kuserahkan kepada penjual koran tersebut. Alhasil, kini ditanganku sudah ada satu buah koran yang langsung kuserahkan kepada sahabatku itu. Nggak heran, dia memang hobi baca.
Baru saja kumasukkan dompetku ke dalam saku celana panjang hitamku, aku baru teringatakan satu hal. Kukeluarkan lagi dompetku dan kuraih sebuah kartu KTP milik temanku yang kupinjam sebagai salah satu syarat (bersama KTP-ku) untuk membeli tiket kami berdua.
“Yan. Ini”, sahutku sambil menyerahkan KTP itu kepada Rian yang langsung larut dalam korannya.“Wah, makasih”, balasnya sambil mengambil KTP-nya dan memasukkannya ke dalam dompetnya. “Ngomong-ngomong, kita naik apaan nanti?”, tanyanya penasaran.
“Naik kereta ekonomi, tanpa tempat duduk”, jawabku singkat.
Rian langsung kaget mendengarnya. Korannya langsung ia letakkan begitu saja ke sampingnya yang kebetulan tidak ada orang. “Beneran?”.
Aku mengangguk mantap. “Yaaa... tapi Insya Allah dikasih tempat duduk kok. Orang kita cuma berdua. Kecuali kalau yang naik sekelas, beda lagi ceritanya”, jelasku. Rian cuma bisa bilang “oooo” panjang.
Kami segera naik ke gerbong belakang begitu kereta ekonomi memasuki stasiun. Kami langsung ambil tempat duduk di tengah-tengah gerbong,duduk berhadap-hadapan tepat di dekat jendela. Tak lama berselang, kereta berwarna jingga tua-biru yang kami tumpangi ini berjalan pelan-pelan sambil mengeluarkan sebuah suara yang asalnya dari lokomotif, sebelum akhirnya melaju kencang dan siap melintas kota dan provinsi di atas rel.
Selama diperjalanan, tak habis kami berbincang, kali ini membahas aktivitas kami berdua sepeninggal SMA tercinta kami. Rian bercerita, banyak hal yang baru ia temui saat masuk ke sebuah universitas terkemuka di sebuah daerah di sebuah provinsi.Mulai dari dunia universitas yang serba harus-tepat-waktu, riset, makalah,presentasi, sampai kehidupannya di salah satu kos-kosan yang banyak dihuni mahasiswa yang satu kampus dengannya.
“Yah, hampir sama denganmu lah, Yan. Banyak tugas, makan urus sendiri, uang kuduhemat. Belum lagi tugas-tugasnya”, ujarku saat Rian gantian menanyaiku tentang kehidupan mahasiswaku selama lebih setahun
“Tapi sholat gak krisis kan?”, tanya Rian memainkan nadanya.
Aku menggeleng. “Nggak lah!”, jawabku singkat sambil tersenyum padanya.

---

Kereta ekonomi ini tiba-tiba saja berhenti saat aku terbangun dari tidurku. Kulihat Rian di depanku, dia masih tertidur menyandarkan kepalanya ke dinding besi kereta yang sudah dia beri bantal udara yang ia bawa dari kosnya. Lalu, aku melirik ke arah jendela. Belum sampai kan?, batinku.
“Nak, tempat ini kosong?”.
Suara itu mengagetkanku saat aku tengah menyaksikan pemandangan luar dari jendela, tepat saat kereta ini kembali merayap keluar stasiun. Aku menoleh ke sumber suara,dan kudapati seorang nenek tua berkerudung sedada sambil menatapku. “Emm...iya,nek. Kosong kok”, jawabku sambl mempersilahkan. “Nggak apa-apa kok Nek. Dia teman saya, lagi capek”, ujarku saat nenek itu sempat curi pandang ke Rian yang masih terlelap dalam sandaran bantal udaranya.
Aku dan nenek sepuh berusia sekitar 70-an ini lalu larut dalam bicara. Setelah kutanya-tanya, nenek ini rupanya ingin mengunjungi salah satu anaknya yang sudah merantau jauh ke Bogor. Sendirian?!
“Rumahnya dimana Nek?”, tanyaku.
“Purwokerto, Nak”.
“Kesininya?”.
“Kebetulan kemarin Nenek udah pesan tiket bis buat ke stasiun”.
“Nggak apa-apa nih, Nenek pergi sendirian?”.
“15 tahun sejak ditinggal suami dan anak-anak yang sudah merantau, Ibu jadi kesepian, Nak. Ibu kangen anak-anak sama cucu-cucu mereka”.
“Ya Allah.... Nggak ada satupun yang tinggal, paling nggak yang satu kota sama Nenek?”.
“Nggak Nak. Tapi Ibu bersyukur sekali, karena mereka sudah sukses. Meski memang sedih ditinggal mereka, tapi alhamdulillah usaha Nenek dan Kakek buat membesarkan mereka semuaitu ada hasilnya”, ujar Nenek berkerudung sedada itu yang kini duduk disebelahku.
Tak lama kemudian, Rian bangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya, berusaha mengumpulkan semua kesadarannya. Ketika kesadarannya terkumpul semua,ia baru sadar di sebelahku sudah duduk sang Nenek. Tanpa pikir panjang, ia segera meminta maaf karena tak sadar akan kehadiran beliau. Lalu, ruang obrolan kami yang awalnya cuma dua orang kini bertambah seiring kehadiran sang Nenek.Hingga kami lupa waktu.
Rian seperti teringat sesuatu. “He, Lim. Udah sholat belum?”, tanyanya padaku.
“Oh iya!”, seruku sambil melirik arlojiku. Tak terasa, Dhuhur dan Ashar kami lewatkan begitu saja.“Gini aja. Kita jama’ qashar giman?”, usulku.
Kemudian, kami punlarut dalam khusyuk sholat kami di atas bangku kereta ekonomi.

---

“Eh Lim. Kayaknya negara kita tu harus dibenahi deh”, shut Rian tiba-tiba, saat kami berdua keluar dari stasiun Gambir tepat jam 20.00.
“Hah? Maksudmu Yan?”.
“Iya, kamu tau sendiri kan? Orang-orang yang masuk-keluar di gerbong yang kita naikin tadi?Penjaja makanan dan souvenir yang kayaknya tua-muda jualan semua, para pengamen yang sebenarnya suara dan lagu mereka bagus tapi cuma bisa dipajang di hadapan penumpang”, ujarnya.
“Itu pas kereta lagi berhenti kan?”, sahutku, teringat semua momen-momen itu. Roll film dalam otakku pun dengan tanggap memutar memori yang baru terekam beberapa jam lalu, persis seperti bioskop.
Rian mengangguk serius. “Iya. Belum lagi Sang Nenek yang tadi duduk di bangku kita. Kasihan banget, kesepian ditinggal anak-anaknya?”, lanjutnya. “Mirip teater berjalan ya?”.
Aku mengangguk setuju padanya. Gerbong ekonomi yang kami tumpangi tadi memang mempertontonkan wajah-wajah rakyat negara ini yang masih tersembunyi.
“Lalu? Apa yang harus kamu lakukan sebagai seorang mahasiswa HI?”, tanyaku sambil mengharap jawaban darinya.
“Apa hubungannya HI sama yang aku ceritain tadi? Jauh banget tau!”, ujarnya sambil menyenggol bahuku hingga terdorong sedikit dengan tawanya yang langsung kubalas tawa juga. Sekali lagi, aku tahu itu pasti tidak dilakukannya dengan sepenuh hati. Cuma sepenuh guyon. “Tapi emang bener sih. Jurusan HI yang aku ambil kan dari jurusan IPS aslinya”.
“Yaahhh... kalau aku sih, kelak ketika aku sudah terjun di masyarakat, aku coba untuk tidak pernah melupakan kedua orang tuaku dengan sering menjenguk beliau, menghormati jasa para guruku dengan mengamalkan ilmu yang aku dapat, serta membantu orang-orang yang kesusahan. Itu aja. Karena aku hari ini bukanlah seorang pejabat tinggiyang duduk di kursi parlemen, jadi usahaku cuma sampai sebatas itu”, terangnya panjang lebar. Ia seperti ribuan penasehat bagiku. “Kalo kamu? Sebagai mahasisiwa Informatika?”.
Aku cuma mengangkat bahuku. “Yaaa...paling tidak, aku akan coba lakukan sama sepertimu, karena aku juga bukan seorang petinggi yang berpengaruh. Jadi aku coba lakukan semampu dan semaksimal mungkin untuk bisa berguna buat kedua orang tuaku, banyak orang,lebih-lebih untuk negara kita tercinta ini”.
Rian tiba-tiba mengacungkan kelingkingnya padaku ketika kami berhenti di trotoar, menunggu bis yang akan mengantar kami sampai ke tempat tinggal salah satu teman kami yang kebetulan kuliah di Jakarta. “Janji ya?”, ujarnya padaku.
Aku memandang sebentar ke arahnya. “Aku gak bakal bilang ini sebuah janji. Tapi ini akan jadi catatan sendiri buatku, buat kita juga, untuk bisa merubah wajah negeri inikelak”.
“Plus, penyemangat kita!”, serunya.
Aku pun mengangguk. Jari kelingkingnya aku sambut.
Bis datang d tengah gemerlapnya lampu jalan di Jakarta. Kami segera naik untuk sampai ke tujuan kami. Bersamaan dengan itu, hati kami sepakat untuk siap mengarungi hari-hari berikutnya yang bakal jauh lebih melelahkan lagi dari hari-hari biasanya :mengabdi pada negeri, menghamba pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Written From: Iqbal Santoso Putra.

0 comments: