Friday, 23 May 2014

Mungkin bagi kebanyakan orang, matematika diartikan sebagai ilmu yang eksak dimana jawaban atau penyelesaian atas soalnya pasti dan harus benar. Hal tersebut sangat mempengaruhi pola berpikir kita dalam pembelajaran matematika. Kebanyakan kita sebagai guru sering mengajar matematika dengan cara memberikan materi matematika berupa rumus-rumus dan simbol-simbol,kemudian memberikan siswa soal latihan sebagai bahan evaluasinya atau siswa diminta menghafalkan rumus kemudian diminta mengerjakan soal untuk menguji pemahaman siswa.



      Adakalanya mungkin hal ini harus dilakukan, namun tidak untuk selalu dilakukan, karena jika hal ini menjadi rutinitas kita dalam mengajar, maka dipastikan cap kuno, kaku, dan horor matematika tidak akan pernah dapat hilang dalam pikiran siswa kita. Selain itu, model pembelajaran matematika seperti ini kurang memberikan kesempatan siswa untuk saling berdiskusi dan menggali hal hal menarik dalam dunia matematika.
      Salah satu cara yang mungkin dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengajak siswa berperan aktif dalam diskusi matematika atau lebih dikenal pembelajaran open ended. Pembelajaran matematika secara open ended merupakan pembelajaran dimana tidak mengenal istilah jawaban benar atau salah, karena disetiap jawaban diharuskan memiliki alasan-alasan yang jelas. Kedengaran aneh memang dalam benak kita, perihal dalam matematika yang kebenarannya atau penyelesaian yang bermacam macam. Namun, untuk beberapa subjek dalam matematika, pembelajaran ini sangat ampuh digunakan, salah satunya adalah pembelajaran mengenai peluang.
     Bagi kebanyakan siswa SMP maupun SMA, peluang merupakan pelajaran yang sangat sulit dan menjengkelkan. Disebut sulit karena banyaknya syarat dan ketentuan dalam menyelesaikan soalnya dan disebut menjengkelkan dikarenakan perhitungan perhitungan dalam pecahan hanya menggunakan perhitungan bilangan pecahan yang sederhana, namun untuk menyelesaikannya dengan menggunakan aturan yang mana itu yang sulit. Hal ini dikarenakan kurangnya ilustrasi-ilustrasi awal ketika memulai mengajarkan peluang.
     Langkah awal yang mungkin dapat kita lakukan adalah, memberikan cerita mengenai sebuah peristiwa yang berhubungan dengan peluang. Sebagai contoh cerita yang sering saya sampaikan adalah
" Di sebuah film, diceritakan bahwa seoranganak genius berdiri diatas rel kereta api yang ada di stasiun. Pada saat yang sama, datanglah kereta api tersebut dari arah utara. Spontan hal tersebut membuat geger  seluruh orang yang ada di statasiun. Untungnya, kereta berhenti 1,5 meter di depan anak tersebut. Sesampai di sekolah, kepala sekolah mengintrogasi anak tersebut. Dalam introgasi tersebut, si anak berdalih bahwa dia tidak akan mungkin tertabrak karena jika kereta yang menuju stasiun hampir selalu berjalan dengan kecepatan tertentu dan hampirselalu tepat berhenti 1,5 meter di depan stasiun persis. Jika hal tersebut dihitung,maka peluangnya adalah 0,0001 dan sangat tidak mungkin."
      Berdasarkan ilustrasi yang kita ceritakan tadi kita dapat mengeksplore banyak pertanyaan mengenai peluang, bahkan kita juga dapat menghubungkan kepada pertanyaan yang bersifat sosial atau keagamaan yang pada akhirnya dapat menghidupkan suasana berdiskusi kelas. Karena materi yang kita sampaikan ini bersifat open ended, maka diusahakan agar kita tidak langsung membenarkan, menyalahkan, atau mengambil kesimpulan  atas pendapat yang dikemukakan oleh siswa. Yang perlu kita lakukan adalah memoderasi agar proses diskusi berjalan menarik. Jika terdapat pendapat siswa yang bertolakbelakang dengan agama, kita jangan langsung menjudge menyalahkan siswa, namun kita arahkan agar pendapatnya tidak terlalu melenceng.
      Setelah kita lakukan pembelajaran, tentu kita membutuhkan yang namanya evaluasi. Evaluasi yang kita buat adalah pertanyaan pertanyaan yang tidak jauh berbea dengan apa yang kita sampaikan. Pertanyaan yang kita buat haruslah bersifat penjelasan yang terurai. Penilaian atas pertanyaan tersebut tidak didasarkan atas benar atau salahnya, namun penilaian didasarkan atas kemampuan siswa dalam mengkritisi permasalahan yang disampaikan. semoga bermanfaat!
   

0 comments: