Tuesday, 27 May 2014

Emas, siapa yang tidak tahu. Sebuah logam murni yang sangat disukai oleh banyak orang, terutama oleh kaum hawa.Mengapa tidak, selain nilai jualnya yang cukup tinggi, emas sangat cocok dibuat sebagai perhiasan dan oleh kebanyakan masyarakat digunakan sebagai alat pengukuran derajat sosial seseorang.
Namun, dibalik itu semua ada hal menarik yang dapat kita pelajari dari emas, yakni emas tidak pernah luntur atau berkarat sekalipun dia berada di lumpur atau sampah terburukpun. Kenyataan seperti ini dapat kita ibaratkan ketika kita menempuh pendidikan di sebuah sekolah.

Aku ingat, ketika aku baru lulus SMA, aku sangat kecewa sekali, karena apa yang kudapatkan sangat jauh sekali dengan apa yang kuharapkan. Ketika SMA, aku membayangkan aku dapat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kotaku dengan jalur PMDK (tanpa tes), tapi semuanya itu meleset dikarenakan biaya kuliah yang sangat tinggi untuk program PMDK. Sehingga apa bisa dikata, kuurungkan niatku untuk masuk perguruan tinggi tersebut, meski pada waktu itu aku benar-benar diterima dengan jalur PMDK. Tetapi, tidak lama kemudian, ada seseorang menawariku untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta. Dia juga bilang kepadaku bahwa biaya perguruan tinggi tersebut sangat terjangkau dan dapat diangsur. Mendengar penjelasan tersebut, kemudian aku kembali bersemangat untuk melanjutkan pendidikan. Aku  pergi mendaftar di perguruan tinggi tersebut, ketika kuliah bangunan fisik dan sarana prasarananya, alangkah terkejutnya aku, karena sangat minim akan fasilitas. Namun, karena tidak ada pilihan lagi dan aku harus melanjutkan pendidikan untuk masa depanku kelak, maka akupun tetap mendaftar dan menjadi mahasiswa di kampus tersebut.
Hari demi hari aku jalani proses pembelajaran di kampus tersebut dengan hati yang kecewa. Namun, aku tetap serius mengikuti semua proses perkuliahan. Untuk meluapkan kekecewaanku, kadang-kadang akupun mendebat dosenku ketika sedang perkuliahan atau melontarkan kritik-kritik yang cukup menyinggung bagi kampus. Hingga pada suatu hari seorang dosen memanggilku. Dia menasehatiku akan suatu hal, dan salah satu nasehat yang masih kuingat dan membuatku terharu adalah ” meskipun sekarang kamu tidak mendapatkan seperti apa  yang kamu harapkan kamu tetap bisa menjadi seperti mereka-mereka semuanya. Karena yang namanya emas, meskipun berada di tempat apapun tetaplah emas dan tidak akan berubah menjadi perak ataupun perunggu. Dan satu lagi, yang namanya belajar tidak selalu dengan sesuatu yang mewah atau yang bersifat prestisius, tetapi bagaimana kita menjalani segala sesuatu secara maksimal dan penuh percaya diri”. Setelah mendengar itu semua, kemudian aku menyadari betapa dangkalnya pemahamanku mengenai belajar. Kini aku sadar, yang namanya belajar itu adalah berasal dari dorongan hati dan harapan yang dalam dan diwujudkan dengan usaha yang pantang menyerah untuk mencapai hasil yang maksimal.  Sedangkan hasil yang maksimal itu sendiri adalah hasil yang kita peroleh setelah kita melakukan kemampuan terbaik kita.
Teman-temanku yang luar biasa, alhamdulillah kini aku mengajar di sebuah sekolah yang bagus di daerahku dan kepala sekolahnya memberikanku amanah untuk menjadi pembina kompetisi-kompetisi seperti olimpiade. Sungguh, bagi saya ini adalah sebuah pencapaian yang sangat indah dan memberikanku pelajaran yang cukup berharga. Ternyata sesuatu yang secara kasat mata terlihat tidak bagus, tidak layak, ataupun tidak pantas belum tentu menjadikan kita pribadi yang tidak pantas pula. SEMANGAT!!!!!

0 comments: